Penyusunan mahakarya sastra Jawa Kuno oleh Mpu Tantular di era keemasan Majapahit yang melahirkan semboyan persatuan nasional bangsa Indonesia: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
📜 Sejarah & Latar Belakang Mendalam
Bait lengkap pupuh 139 bait 5 berbunyi: 'Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhineki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa' (Dikatakan bahwa Buddha dan Siwa itu dua zat berbeda, tapi bagaimanakah bisa dibagi-bagi? Hakikat Jina/Buddha dan Siwa adalah tunggal; berbeda-beda tetapi satu jua, tiada kebenaran yang mendua).
✨ Makna Filosofis & Nilai Universal
Prinsip tertinggi toleransi dan rekonsiliasi keberagaman spiritual: bahwa semua jalan yang tulus bermuara pada satu Kebenaran Hakiki.
🌍 Pengaruh & Relevansi Global Saat Ini
Ditetapkan resmi sebagai semboyan lambang negara Republik Indonesia (Garuda Pancasila) dan dipuji oleh para sosiolog dunia sebagai filosofi pluralisme paling matang.